Saya baru bangun saat T-Ara dengan Lovey Dovey-nya bernyanyi.
"H....a....l...oo...." jawab saya tanpa melihat siapa yang memanggil. Mata saya masih belek-an. Iyalah, saya baru bangun. Nyawa saya saja masih belum terkumpul.
"Woi, ratu lelet,pasti masi tidur lo"
"He???"
"Woiiiiii.....!!!!!" saya menjauhkan ponsel saya dari telinga saya
Melihat siapa yang menghubungi di jam segini. Ini masih jam 7 pagi.
Bram..tapi suara permepuan...!
Heh, perempuan mana yang dibawa Bram pagi-pagi gini?
"Siapa ini?" tanya saya, masih dengan suara parau
"Ih, ni anak pasti masih kemana-mana ilernya....Bangun woyyyy!"
Saya kembali melihat ponsel saya. Bangkit dari tempat tidur. Kutang saya masih kemana-mana. Mengucek-ngucek mata saya.
"Salah sambung ini, mbak"
Terdengar tawa dari ponsel. Sedetik kemudian terdengar klakson mobil. He? Siapa pula yang datang ke rumah jam segini?
Saya mengintip dari balik jendela. Mobil Bram.
Bergegas saya mengenakan kaos kebesaran saya. Dengan ponsel masih di tangan, saya keluar rumah.
"Bram?" panggil saya, ragu, membuka gembok pagar. Menghampiri mobil Bram. Mengetuk kaca jendela mobilnya.
Seketika saya melihat wajah perempuan disitu, memamerkan deretan giginya yang putih.
"Iliana?" saya kaget?
"Haiiii, cintaaaaaa!" Saya melongok ke belakang jok. Ada orang lagikah?
"Harfi?" saya menunjuk lelaki di belakang Bram. Ia melambaikan tangannya.
"Pada mau kemana?" tanya saya
"Lo, cepetan cuci muka,kita tunggu di sini. Cepetannnnn, gue lapar" Iliana menunjuk perutnya
"Heh, gembil, ini mah masih jam 7 pagi. Kepagian sarapan jam segini"
"Bodo' ah, gue lapar. Mau nyoba sarapan di Medan"
"Ih, gangguin orang tidur aja"
"Buruan neng! Aku juga mau ngelanjutin tidur nanggung. Kasian tukang lontongnya, kelamaan nunggu" saya melihat Harfi.
"Ntar deh, cuci muka dulu. Mau pada masuk gak?"
"Gak usah, ntar lama lagi...buruan"
Saya bergegas masuk, cuci muka, sikat gigi, sisiran. Dan semuanya dilakukan dalam waktu 5 menit saja. Hebat ya saya?
*
Saya kaget saat melihat Dino sudah nongkrong duluan di tempat sarapan. Bersama perempuan, pacarnya kali ya? pikir saya.
"Ini acara apa sih?" tanya saya begitu menempatkan bokong saya pada tempat yang seharusnya.
"Sarapanlah, neng!"
"Yah, gak musti gini jugakan?" tanya saya sambil menunjuk ke semua orang. Menanyakan apa iya harus sarapan bareng, seperti ini?
"Sesekalilah, secara aku baru nyampe juga dari Jakarta. Sesekali pengen sarapan ala orang Medan" saya melihat Iliana. Oh, yes, meet my friend, Iliana. Dia kerja di Bank di Jakarta. Karena adiknya akan menikah lusa, dia permisi cuti. Jadi, dia sebenarnya orang Medan juga.
"Adek nikah lusa? hari Minggu ini?" tanya Dino.Iliana mengangguk, sambil mengunyah lontong sayurnya.
"Lontong Medan gak ada tanding dah!" ujarnya sambil menyeka mulutnya dengan tisu.
Saya melihat dia.
"Udah berapa lama sih gak sarapan kayak gini?" tanya saya, heran kok segitunya sarapan lontong aja.
"Di Jakarta, mana ada lontong lemak kayak gini,Mara"ujarnya. Bram mengangguk-angguk, tanda setuju.
"Gue nyobain nasi gurih lo ya?" sebelum jawaban 'iya' keluar dari mulut Dino, dengan cueknya sendok Iliana sudah mampir di piringnya. Tanpa sadar saya melihat perempuan disebelah Dino.Dia cantik, kulitnya putih, tapi untuk beberapa detik rona merah terlihat di wajahnya yang mulus seperti porselin itu. Saya menyepak kaki Iliana.
"Aduh!"
"ih, apa-apaan sih lo? sakit tau?!" saya senyum, melirik Harfi dan Bram, minta tolong
"Gak sopan Li.." Harfi menegur Ilianan, pelan
"Dino aja kok!" saya tersenyum
"Kita pesan lagi aja ya, nasi gurih buat kamu" Iliana langsung memberi kode tidak usah dengan tangannya
"Gue cuma mau ngerasain doang" lagi-lagi saya mencoba memberi kode pada Iliana bahwa Dino pagi ini tidak sendirian
"Ohhhh" ujarnya sambil melirik perempuan, yang sementara ini kami simpulkan sebagai pacar Dino.
"Sori, ya, mbak..kebiasaan" Iliana minta maaf dengan malu-malu
Kami tersenyum di kulum,, mencoba menahan tawa.
"Gak pa-pa"
"Adek mau nikah lusa, kamu kapan nyusul?" Dino mengulangi pertanyaannya
Iliana melihat Dino, pacarnya, dan kami semua bergantian. Lalu menunjuknya dirinya sendiri.
"Malah nanyain gue, elo kapan? Tu, si mbak udah nunggu dilamar" Pfttttt, saya benar-benar mencoba menahan tawa saya. Iliana sedang kumat niy. Ngaco omongannya,mungkin karena pagi di Medan yang udah gak murni lagi. Asap kanlpot speda motor maupun mobil sudah memenuhi jalan jauh sebelum orang Medan bangun dan beraktifitas.
Si mbak, tersenyum, lalu menggeleng. Dino melihatnya dan tertawa.
"Sori deh, lupa dikenalin. Ini Nisha, temen aku" perempuan yang kami sinyalir sebagai pacar Dino, dan bernama Nisha ternyata hanya diakui sebagai temannya.
"Kirain pulang ke Medan, mau kawin. Minimal nyebarin undangan" Harfi ikut nyelutuk
Iliana menggeleng.
"Masih enakan gini.Lagian gimana mau nyebarin undangan kalo laki nya aja belum ada?" Iliana bersungut-sungut. Saya terkekeh.
Bram menepuk bahu saya.
"Tenang, sebentar lagi kita bakal diundang" saya melihat Bram. Oh,NO! Jangan sekarang, Bram, pinta saya dalam hati. Semua melihat saya. Saya tersenyum paksa!
"Jangan mau termakan berita burung yang belum jelas kebenarannya" jawab saya
"Iya?" Iliana melihat saya
Saya mengangkat bahu.
"Tadikan mau nanyain Nisha..." saya mengalihkan pembicaraan
"Awak temannya Bang Dino, Kak. Lagi main ke Medan juga, baru nyampe tadi malam"
"Orang mana?" tanya Bram. Pantang melihat perempuan bening.
"Padang"
Oooooooooo...
"Oke, back to the topic, kamu memangnya mau married?" Iliana melihat saya
Saya mengangkat bahu..." Belum tahu juga,Li. Masih baru kenalan"
"Gimana orangnya?" Harfi ikut penasaran
"Tenang...ntar kalau sudah waktunya pasti aku kenalin ke semua. Sekarang belum bisa di upload ke permukaan, apalgi di share ke semua orang.." saya mencoba menjawab sok bijak
"Namanyalah?" Dino memelas. Saya senyum.
Saya melihat lontong sayur di piring Iliana. Tidak habis. Seperti ini, maksud saya. Lontong sayur itu enaknya kalau dimakan saat sarapan, kalau dimakan malam,well...mungkin ada yang namanya lontong malam, tapi bagi saya tetap aja nikmatnya lontong sayur dimakan saat sarapan. Kalau dimakan berlebihan, jadinya nikmatnya berkurang apalagi kalau kebanyakan nyoba kanan-kiri.
Begitupun jodoh,pacar atau apapun sebutannya, terasa pas, jika sudah dijalankan. Pas dinikmati semua orang saat kita sudah siap menjalani hidup bersama dengannya, saling memasuki kehidupan satu sama lain.
Semoga filsafah lontong sayur saya ini tidak salah ya... :)
Komentar
Posting Komentar