REUNI KENANGAN

Selalu ada rasa sesak setiap mengingatmu. Kembali di tempat ini, melewati jalan-jalan yang pernah kulalui ketika masih denganmu rasanya cukup mmebuat nafasku sesak. "Hey..ngelamunin apa?" Shasya berhasil mengembalikan tondi ku setelah sepersekian detik yang lalu pikiranku penuh dengan dirimu Aku tersenyum padanya. "Nothing" jawabku seadanya Tentu saja itu bohong! Tapi aku juga tidak perlu terlalu berterus terang padanya soalmu. Iya,kamu! Bagi Shasya kamu bukan siapapun selain travelling buddy. Bagi ku, yah... aku juga gak punya definisi tentang hubungan kita. Seperti biasa, hanya teman saja. Bahkan travelling buddy juga bukan. "Ngelamunin Bram, deh pasti.." Shasya selalu memilki indra ke 6,5 saat melihatku yang sedang memikirkanmu Aku tersenyum manja. "You know, Sya..this place,always bring memory ...tak pernah sekalipun tidak " aku membuka percakapan setelah 2 kali jawaban penuh senyum "Aku tau" "Bali and all the stuff..." aku mengangguk "Apa bagian favorit mu?" aku mengernyitkan dahi menanggapi pertanyaan Shasya "Yang mana kenangan favoritmu Bersama anak muda itu?" aku terkekeh mendengarnya "Aku nggak tau juga" "Biar aku bantu...saat clubbing, atau dengerin live music,atau dibeliin tas croco ituuuuu…." Shasya menggodaku. Aku ingat cerita tentang tas croco itu. Tas yang tidak bermerek khusus, di butik kecil di salah satu sudut di Kuta. Aku suka struktur kulitnya yang waktu itu menurutku, keren banget. Liat-liat, tanya harga, dan nyampe di harga barulah aku bengong harganya 3,5 juta aja. Aku ingat menggeret-geret Bram ke toko itu, minjem duitnya..(kata lain dari minta dibeliin paksa). Bram juga cuma cengar-cengir, menunjukkan dompetnya yang tipis dengan beberapa lembar uang ratusan ribu, kartu kredit yang sedang over limit sehingga gak bias dipake, sampai akhirnya kami keluar dari took tersenyum bersungut-sungut sambal diantar dengan Bahasa sekitar dari pramuniaga took tersebut. Mungkin kalua di pajak petisah, artinya sam dengan "kalua gak punya uang gak usah belanja lah" . Well, that's my Bram. Soal clubbing atau ngedengerin live music, di Bali itu hal biasa. Bagi sebahagian orang Bali pulau dewata, pulaunya para dewa. Bagi pelancong, Bali is heaven. Dalam arti minuman disana gampang didapet,clubbing tinggal masuk aja, bar-bar di piggir jalan, club-club juga gak sulit nemukannya. Tapi bukan hal-hal itu yang bikin aku mengingat Bram. Kembali aku mengingat ketika aku bosen clubbing, hampir mabuk, BRram menarik tanganku keluar bar. "Cukup,Mara.. kamu hampir teler" "Kan ada kamu…" aku menunjuknya "Hei..ayok, kita balik hotel, kalau kamu mabuk,aku nggak sanggup ngangkat..berat banget kamunya" aku ingat, aku merajuk, seperti biasa memanyunkan bibirku 20,3 cm..sebel "Aku tau aku gak selangsing bule-bule itu,tapi gak usah dibilang gendut juga" "Aku gak bilang gitu…" dia tersenyum, meledekku Aku akhirnya cuma pasrah dibawanya pulang, sambal setengah mati menyeret kakiku. Badanku terasa berat.Kepalaku apalagi. "Bram..." panggilku, smbil menggenggam tangannya sepanjang perjalanan pulang "Ya?" "I think I like you" aku menyenderkan kepalaku di bahunya "Me too" "I'm serious" "I know. And i'm serious too" "Lalu, kenapa sampai hari ini kita cuma temenan?" Bram diam. Dalam diamnya,aku tahu ia tidak ingin kembali ke masa-masa "saling tembak" seperti jaman sekolahan dulu. "Shoul we back to the old story, Mara? You know how I felt..and I know your feeling.But we're not belong to be together" "who said that?" "Jangan kita mulai lagi,Mara" ".." dan seperti yang sudah-sudah, kami hanya bercumbu dalam diam. Bertahun hubunganku dengannya, dan kami sedikitpun tidak mengalami kemajuan. Diam di tempat juga bukan. entah apa namanya. Tapi aku rindu padanya, disini, di tempat ini. Bali,March 2019; I miss you,sis

Komentar