Laki-laki = Hantu

Saya membaca status teman saya. Bunyinya seperti itu.
Saya tidak bilang saya setuju dengan kalimatnya, tapi kenyataaannya memang cenderung seperti itu.
Namanya Andika. Seorang teman dari masa lalu. Kami pernah berhubungan cukup lama, pacaran, kata . Saya tidak akan bilang kami pacaran, tapi kami memang dekat. Seperti abang dan adik, teman sekaligus sahabat, ketika masing-masing punya pacar,pun saat sedang menikmati masa-masa sendiri. Dika,saya memanggilnya seperti itu,setelah lama meninggalkan saya bersama sekotak masa lalu, tiba-tiba hari ini menghubungi saya lewat inbox facebook saya.

'Amara, miss you, dear.
Aku sedang di kota kamu, ketemuan yuk'

Di satu sisi, saya senang.Setelah hampir sepuluh tahun dia menghilang dari kehidupan saya, tiba-tiba, dengan seenaknya dia mengajak saya bertemu. Saya kalang-kabut mencari nomor telefonnya yang bisa dihubungi.
"Halo" sebuah suara menyapa saya, ketika tiga kali panggilan berbunyi dari ponsel saya
"Dika?" tanya saya, ragu
"Ya, benar. Dengan siapa ini?"
Saya terdiam.
"Halo?"
Ehem...saya berdehem
"Ya, Dika?"
"Ya, betul. Maaf saya bicara dengan siapa?"
"Amara"
"Heiiiiiiiiii" sapanya panjang
"Kamu dimana?"tanyanya
"Kantor"
"Saya jemput ya?Kita makan siang.."
"...Gak usah!" jawab saya tegas
"eh?" saya yakin ia kaget, karena saya juga kaget mendengar jawaban saya sendiri
"Sorry, maksud saya, aku gak bisa, sorry"
"Kenapa? Jangan-jangan ada yang marah ya?" saya tahu ia hanya menebak-nebak, berbasa-basi. Hal yang biasa ia lakukan saat kami masih bersama dulu.
"Iya"
Diam.
"Amara,it just lunch"
"Sorry, Dika, aku gak bisa"
"Amara?"
Saya mencoba menahan air mata saya. Pelupuk mata saya sudah digenangi bulir air mata, cengeng. Saya selalu cengeng ketika bersama dia.Saya lemah ketika Dika bersama saya. Semua karena saya pikir Dikalah yang bisa melindungi saya. Berbulan, bertahun bersama, saya hanya dapat air mata. Bukan karena Dika orang yang kasar. Tapi justru karena perhatiannya sebagai seorang laki-laki, kasih sayangnya-yang setelah bertahun-tahun bersamanya- saya tak lagi merasakannya sebagai kasih sayang seorang abang kepada adiknya atau sesama sahabat, saya jatuh hati padanya. Dika tahu itu,tapi berusaha pura-pura tidak mengetahuinya dan selalu mencoba menghindari saya saat saya ingin memebicarakannya. Tiba-tiba..

"Amara?"
Saya tidak mau menjadi lemah lagi untuknya!
" I'm with someone, now, Dika"
"Cuma makan siang?"
"I dont want you in my life now, i can't let you in"
"Amara,kamu berlebihan. Aku cuma mau ngajak makan siang"
"Justru itu yang buat aku yakin untuk tidak lagi membiarkan kamu masuk di kehidupan aku. Karena kamu cuma berani mengajak aku makan siang. Tidak lebih!"
Andika tertawa di seberang.
"Aku di depan kantor kamu" jawabnya.
WHAT??
"Ibu yang ngasih tau. Kamu mau keluar atau aku yang masuk?"
Saya menggelengkan kepala.
"Aku keluar"
*
Saya mengaduk-ngaduk jus kuini pesanan saya.
Andika.
"Don't you miss me?"
Sangat! jawab saya dalam hati. Tapi cukup dalam hati.Dika gak perlu tahu.
"Ada apa dengan 'i'm with someone,now'?"
"Memang benar, aku gak mau kamu ganggu aku. I'm in relation, the adult one" ujar saya
"Maksud kamu, kita dulu gak dewasa? Gitu?"
"Bukan kita. Kamu"
Dika mengangguk-ngangguk.
"Aku udah berubah, Mara.Aku dulu memang belum siap.
I do now"
"Aku yang gak siap" saya menghela nafas
"Gak siap kamu mainin lagi. Sesuka hati kamu, datang-ninggalin-begitu siap, kamu balik lagi. Kamu anggap hatiku terbuat dari apa? Besi? Aku perempuan, aku gak minta kamu kawini tapi kamu menggantung aku, hari ke hari, bulan ke bulan, tahun ke tahun..dan sekarang..." saya melihat Dika
"Saat aku sedang berusaha melupakan kamu, kamu datang dan bilang kamu siap untuk bersama dengan aku" Dika menarik tangan saya, menggenggamnya.
"Maaf, Mara..aku gak bermaksud gitu"
"Aku yang minta maaf, Dika. Tolong, antar balik aku ke kantor. Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan"
"Mara..."
"Please"
Saya kecewa dengan Dika. Sekalipun saya menyayanginya, saya gak bisa begitu saja meninggalkan Pram. Saya harus melangkah maju.Begitupun Dika. Kalaupun harus jadi hantu, seperti status teman saya, biarlah saya mengenangnya saat ia hidup, pada masa lalu saya.Dika yang terindah pada masanya.
(Nuyulbelle...i borrow your status yaa :p)

Komentar