Saya melihat kartu nama yang ada di tangan saya.
Pramono Mudjioko
General Executive
East Teritory
Ragu, saya menekan nomor ponsel yang tercetak di kartu nama itu.
Saya gak suka harus melakukan ini, menghubungi Pram, orang yang pernah hampir dijodohkan Ibu dengan saya. Bukan karena tidak jadi melanjutkan ke hubungan yang Ibu harapkan tapi lebih karena harga diri saya. Rasanya pantang bagi saya untuk menghubungi orang yang saya putuskan untuk tidak saya jalin hubungan dengannya. Seperti meludah ke lantai dan saya harus jongkok atau bahkan menyetubuhi bumi untuk mengelap-jika tidak mau dikatakan menjilat- ludah saya sendiri.
Tiga kali nada sambung, sebelum akhirnya seorang perempuan yang dulu dikenal sebagai Veronika, menjawab untuk menyuruh saya meninggalkan pesan.
Ragu, saya mencoba meninggalkan pesan pada perempuan itu.
"Pram, ini Amara. Amara yang pernah ketemu kemarin itu, anaknya Ibu ...mmmm..." saya diam. tiba-tiba saya merasa ini tidak perlu, dan menekan gambar telefon berwarna merah di sisi kanan BB saya.
Seketika saya merasa rendah, kaperlek istilahnya : kapan perlu pakek.
Saya menyelesaikan mengemas pakaian yang akan saya bawa untuk acara nikahan Abdee di Makassar. Saya menekan nomor Iliana.
"Li...lo kerja gak weekend ini?" tanya saya begitu Iliana mengangkat ponselnya
"Weekend ini? Gue mau ke Bandung, shopping, dear. Nape?"
"Lo temani gue ke Makassar ya?"
"Ngapain? kerjaan lo kesana?"
"Gak lah, ada teman married. Udah terlanjur janji mau datang"
"Jauh tuh, Medan-Makassar...lo bayarin tiket gue ya?"
Saya menepuk jidat saya.
"Eh, dodol...murahan tiket Jakarta-Makassar daripada Medan-Makassar..."
"Iya, tau gue.Tapi kan elo yang ngajak gue.."
Saya menghela nafas.
"Tiket pergi aja ya..pulang sendiri deh, ya? Minta tolong gue. Lagian elo kan biasa liburan jalan-jalan kalau weekend. Kayakgak tau gaji lo berapa aja..."
"Sialanlo! Pake acara bawa gaji" Iliana mengomel
"Jadi?" tanya saya memastikan
"Okelah...demi elo. Ngomong-ngomong, nikahan siapa sih? Semangat amat"
"Teman. Brownies..."
HIhihihihi....Iliana terkikik di seberang
"Dasar!" saya ikutan tertawa....
*
Saya masih mencari kemeja yang tepat untuk saya gunakan siang ini, ketika akan berangkat ke Polonia airport, ketika ada BBM yang masuk.
Pram!
Yah, okey, saya sempat tukaran PIN dengannya. Tapi itu saja. Pertemuan kami tidak lama. Seperti yang sudah saya bilang, saya tidak tertarik dengannya. Ini hanya untuk menghargai Ibu yang telah melahirkan saya saja.
Sori tadi, kenapa ya,Mara?
Saya mengancingkan kancing terkahir kemeja saya, ebelum menjawab BBM nya
Nothing, Pram
Saya berhenti mengetik.
Just wanna let you know, aku mau ke Makassar siang ini, flight jam 3
Send
Saya mengecek segala persiapan, travel-bag, hand bag, ponsel, netbook, MP3 player. Saya melihat gadget saya. Ah, mungkin sebaiknya netbook ini saya tinggalkan saja. Toh, saya bukan melakukan pekerjaan. Lagipula saya udah pegang BB. Kalau hanya untuk update status fb, twitter-an atau BBM-an cukuplah. Ponsel saya kembali berbunyi.
Aku suruh supir jemput ya?
He???!!
Supir?
Apa dia terlalu sibuk sampai tidak bisa menjemput sendiri?Eh?! Saya si pemilik harga diri tinggi, baru saja berharap di jemput oleh seseorang yang saya tolak untuk menjadi calon suami saya. Ups!
Saya bergegas memindahkan bawaan saya ke teras, ketika taksi yang akan mengantar saya ke airport membunyikan klaksonnya.
Saya memberi kabar pada Ibu lewat pesan singkat dan mem-BBM Iliana. Kita janjian ketemu di Soetta.
PING!!
Saya melihat nama Pram muncul.
Terserah kamu aja, saya gak mau ngerepotin kamu, Pram
Gak lah, kabari begitu kamu lepas landas ya?
OK
Makasih duluan, Pram
*
Saya berusaha menganalisa apakah Pram ini orang yang sombong hingga tidak bisa menjemput saya, yang walaupun belum berhasil dijodohkan seharusnya dia justru bersikap ramah dan santun , atau dia memang benar-benar sibuk? Saya curhat pada Bram, via telefon, di ruang tunggu airport.
"Heleh, memang kamunya parah niy" jawab Bram
"Kenapa?"
"Kamu ngakunya gak mau dijodohkan tapi pas lagi gini, ngarep juga di jemputkan?"
Hehehe, saya terkekeh
"Namanya usaha,Bram..."
"Ya udah, terima aja kalo gitu. Dijemput supir atau dia sendiri yang jemput aku rasa gak masalah, tetap aja itu berarti dia perhatian sama kamu"
"Ah, gak bisa gitu..Sombong juga niy orang"
"Kalau dia benar sombong, dia gak perlu repot-repot BBM kamu, Mara"
Saya menganggu-ngangguk, mencoba menerima jawaban Bram. Yah, mungkin memang harusnya seperti itu ya....apa susahnya sih menerima jasa orang? Toh niatnya juga belum tentu jelek.
"Okeylah, kalau begitu. Thank you ya, Bram. Call you later"
"Ok"
Saya menutup ponsel,sambil tetap memegang kartu nama bercetakkan
Pramono Mudjioko, General Executive.
Ah, begonya saya! Iyalah, dia nyuruh supir, siapa saya?????
Hhmmm........ lama banget jadian ama Pram....?
BalasHapusjadi pengen nyomblangin neh.....
:-P
:D
BalasHapus