
Ibu melotot pada saya.Saya hanya memalingkan wajah, berusaha melihat kearah lain. Rasanya tidak sopan harus kembali melotot pada Ibu, walaupun saya tidak suka dengan apa yang disampaikannya barusan.
"Kenapa kamu diam?"
Saya benar-benar tidak tahu harus menjawab apa.
"Kamu tuh, umur udah tinggi, tapi masih juga gak dewasa" Saya melihat Ibu
"Bu, hanya karena saya belum menikah, bukan berarti saya gak dewasa kan bu?"
"Apalagi coba?"
Aduh, Ibu parbada banget hari ini.
"Bu.." saya mencoba menahan emosi saya
"...kan Ibu juga tahu, saya bukannya tidak mencari, memang teman hidup saya yang belum datang. Bukan saya yang mau supaya jodoh saya lama, belum ketemu aja,Bu"
"Gimana mau ketemu,kalau kamunya gak nyari?"
Waduh!
"Ibu..."saya kehabisan kata-kata.Mau membela diri dengan cara apalagi?
"Tukan? Gak bisa jawab kamu kan?" saya cuma bisa geleng-geleng kepala. Bukan menggeleng karena setuju dengan pertanyaan atau lebih tepatnya pernyataan Ibu, tapi karena sudah kehabisan cara membela diri saya sendiri.
"Ibu sekarang maunya gimana? Tolong kasi tahu saya"
"Seperti yang Ibu bilang diawal tadi, kamu harus ketemu dengan anaknya Om Shandi. Sekurang-kurangnya kamu adakesempatan untuk mengenalnya dulu"
"Lalu?"
"Kalau cocok, buat apa nunggu lama-lama? Kita langsung tentukan waktunya"
Saya menutup wajah saya dengan kedua telapak tangan saya.
"Bu, ini bukan zaman siti nurbaya, masa masih harus dijodohkan?"
"Kamu gak percaya sama pilihan Ibu?"
"Noooo, it's not like that. Saya percaya dengan pilihan Ibu. Tapi saya udah besar,Bu, bisa menentukan pilihan saya sendiri"
Ibu melihat saya, tidak yakin.
"Ibu bukan tidak percaya sama kamu, ya nak. Tapi nyatanya sampai hari ini, di umur kamu yang gak lagi muda, setelah sekian tahun Ibu kasih kamu kebebasan untuk mencari jodoh sendiri, buktinya mana,nak?"
Saya tertunduk lemas. Saya tidak akan menyalahkan Ibu jika akhirnya menyimpulkan seperti itu. Saya juga sadar,saya belum bisa memberikan menantu kepada Ibu. Tapi ini bukan hanya masalah menantu dan umur. Ini masalah hati. Saya masih belum bisa menemukan pemilik hati saya, yang bisa mengunci bahkan menggembok hati saya agar ia tetap tinggal di sana. Saya belum bisa menemukan hati yang klik dengan saya, walau mungkin telah klik dengan hati Ibu. Maaf ya, Bu.
"Kamu bakal nemuin dia kan?"
"Siapa bu?"
"Pram"
"Bu...?"saya memelas, memohon kasih Ibu untuk membatalkan perjodohan ini
"Nanti malam jam 8"
"Ibu????"
"Kamu jumpai saja dulu, kita bicarakan lagi nanti, ya nak"
Ibu telah memutuskan tanpa persetujuan saya.
Saya terdiam.
Memegang dada saya yang ser-ser an. Entahlah, semoga hati ini baik-baik saja.
Komentar
Posting Komentar